BAB I
PENDAHULUAN
Ø
Latar Belakang
Pemikiran tentang ayat-ayat yang muhkan dan yang
mutasyabihat dalam al-Qur’an masih sering diperdebatkan oleh para pakar baik
dari kalangan sarjana Islam maupun sarjana Barat, khususnya mereka yang
mempunyai perhatian serius terhadap ilmu-ilmu al-Qur’an (ulumul Qur’an). Term muhkam dan mutasyabih dalam al-Qur’an sering kita temukan.
Kalau kita mengamati secara sepintas terhadap beberapa term tersebut dan
berusaha untuk memahami maknanya, maka seolah-olah antara ayat yang satu dengan
yang lainnya saling kontradiktif.
Dalam surat al-Hud (11: 1) menyatakan bahwa semua ayat
dalam al-Qur’an adalah muhkam, dalam surat Az-Zumar (39: 23) menyatakan semua
ayat dalam al-Qur’an adalah mutasyabih. Sedangkan dalam surat Ali Imron (3:7)
menyatakan bahwa ayat-ayat dalam al-Qur’an adalah muhkam dan sebagian yang lain
adalah mutasyabih.
Dari ketiga ayat tersebut, maka yang menjadi pokok
pembahasan dalam kajian ini adalah ayat yang disebutkan terakhir, yaitu
ayat-ayat al-Qur’an itu ada yang muhkam dan ada yang mutasyabih.
Ø Pembatasan
masalah
Untuk lebih lanjut terarahnya penulisan makalah ini, maka penulis membatasi sebagai berikut :
1. Pengertian Al-Muhkam wal Mutasyabih.
2. Sikap Ulama terhadap ayat-ayat Muhkam wal Mutasyabih.
Untuk lebih lanjut terarahnya penulisan makalah ini, maka penulis membatasi sebagai berikut :
1. Pengertian Al-Muhkam wal Mutasyabih.
2. Sikap Ulama terhadap ayat-ayat Muhkam wal Mutasyabih.
3. Dasar-dasar
pengetahuan Al-Muhkam wal Mutasyabih.
4. Faktor-faktor adanya Al-Muhkam wal Mutasyabih.
4. Faktor-faktor adanya Al-Muhkam wal Mutasyabih.
5. Fawatih Al-Suwar..
Ø Tujuan
Pembahasan
1.
Untuk menambah ilmu
pengetahuan kita, dalam memahami tentang ilmu Muhkam wal Mutasyabih
2.
Mengetahui
tentang Sikap Ulama terhadap
ayat-ayat Muhkam wal Mutasyabih
3.
Mengetahui
tentang Dasar-dasar pengetahuan dan
Faktor-faktor adanya Al-Muhkam wal Mutasyabih.
4. Mengetahui
tentang Fawatih Al-Suwar
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN AL-MUHKAM AL-MUTASYABIH
1. Al-Muhkam
1. Al-Muhkam
Muhkam berasal dari kata
Ihkam yang bearti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan, dan pencegahan. Sedangkan
secara terminologi muhkam
berarti ayat-ayat yang jelas maknanya, dan tidak memerlukan keterangan dari
ayat-ayat lain.
Contoh
surat Al- Baqarah ayat 83 :
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا
تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى
وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ
وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلا قَلِيلا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ
مُعْرِضُون
Artinya :
“Dan ketika kami mengambil
janji dari anak-anak Israel : tidak akan menyembah selain Allah, dan berbuat
kebaikan kepada Ibu, Bapak dan kerabat dekat dan anak-anak-piatu dan orang-
oarng miskin, dan ucapkanlah kata yang baik kepada manusia, dan kerjakanlah
sembahyang dan bayarlah zakat, kemudian itu kamu berpaling kecuali sebagian
kecil dari padamu dan kamu tidak mengambil perduli”[1]
2.
Al-Mutasyabih
Kata mutasyabih berasal dari kata tasyabuh
yang secara bahasa berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya
membawa kepada kesamaran antara dua hal. Tasyahabad Isttabaha berarti dua hal
yang masing-masing menyerupai yang lainnya. Sedangkan secara terminology Al
Mutasyabih berarti ayat-ayat yang belum jelasmaksudnya, dan mempunyai banyak
kemungkinan takwilnya, atau maknanya yang tersembunyi, dan memerlukan
keterangan tertentu, atau Allah yang mengetahuinya. Contoh surat Thoha ayat 5 :
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Artinya
:
“( Allah
) yang maha pemurah, yang bersemayam diatas ‘Arasy”.
Secara istilah, para Ulama berbeda pendapat
dalam merumuskan Muhkam
dan Mutasyabih. Al- Suyuti telah mengemukakan 18 definisi atau tempat yang
diberikan Ulama. Al-Zarqani mengemukakan 11 definisi yang sebagian dikuip dari Al-Suyuti.
Diantara defenisi yang dikemukakan Al-Zarqani adalah :
Diantara defenisi yang dikemukakan Al-Zarqani adalah :
1.
Pendapat
al-Alusi kepada pemimpin-pemimpin mazhab Hanafi.
Ø
Muhkam ialah ayat yang
jelas maksudnya lagi nyata yang tidak mengandung kemungkinan nasakh.
Ø
Mutasyabih ialah ayat yang
tersembunyi ( maknanya ), tidak diketahui maknanya baik secara aqli maupun
naqli, dan inilah ayat-ayat yang hanya Allah yang mengetauhinya , seperti
datangnya kiamat , huruf-huruf yang terputus di awal-awal surat.
2.
Pendapat
dinisbahkan kepada ahli sunah sebagai pendapat yang
terpilih dikalangan
mereka.
Ø Muhkam ialah ayat yang diketahui maksudnya, baik secara
nyata maupun takwil.
Ø Mutasyabih ialah ayat yang hanya Allah lah yang
mengetahui maksudnya, seperti datangnya hari kiamat, kelurnya Dajjal, huruf-huruf
yang terputus-putus di awal-awal surat.
3.
Pendapat
dinisbahkan kepada Ibnu Abbas dan kebanyakan ahli fikih
mengikutinya.
Ø
Muhkam
ialah ayat yang tidak mengandung kecuali satu kemungkinan makna Takwil.
Ø
Mutasyabih
ialah ayat yang mengandung banyak Takwil.
4.
Pendapat ini diceritakan dari Imam Ahmad ra.
Ø
Muhkam ialah ayat yang
tidak berdiri sendiri dan tidak memerlukan keterangan.
Ø
Mutasyabih ialah ayat yang
tidak berdiri sendiri tetapi memerlukan keterangan.
5.
Pendapat
ini dinisbahkan kepada Imam Al-Haramain.
Ø
Muhkam
ialah ayat yang seksama susunan dan urutannya.
Ø
Mutasyabih ialah ayat yang
seharusnya tidak terjangkau dari segi bahasa kecuali bila ada bersamanya
indikasi / melalui konteksi.
6.
Pendapat
Al-Thibi.
Ø
Muhkam ialah ayat yang jelas maknya dan tidak
masuk kepadanya isykal ( kepelikan ).
Ø
Mutasyabih
ialah lawannya.
7.
Pendapat
dinisbahkan kepada Imam Al-Razi dan banyak peneliti yang memilih
Ø
Muhkam ialah ayat yang ditujukan makna kuat, yaitu
lafal Al-Qur’an nas dan lafal zahir sunah.
Ø
Mutasyabih ialah ayat yang
ditunjukkan maknanya tidak kuat yaitu lafal mujmal, muawwal, dan musykil.[2]
Muhkam dan Mutasyabih terjadi banyak
perbedaan pendapat. Yang terpenting di antaranya sebagai berikut :
- Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya, sedangkan mutasyabih hanya Allah-lah yang mengetahui akan maksudnya.
- Muhkam adalah ayat yang dapat diketahui secara langsung, sedangkan mutashabih baru dapat diketahui dengan memerlukan penjelasan ayat-ayat lain.
Para ulama memberikan contoh
ayat-ayat Muhkam dalam al-Qur’an dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum.
Seperti halal dan haram, kewajiban dan larangan, janji dan ancaman. Sementara
ayat-ayat Mutasyabih, mereka mencontohkan dengan nama-nama Allah dan sifat-Nya,
seperti:
وَسِعَ
كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْض (البقرة:255 ))
“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”.
اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (طه: 5))
“Yang Maha Pengasih, yang bersemanyam di atas ‘Arsy”.
تَجْرِى بِأَعْيُنِنَا جَزَاءًا لِمَنْ كَانَ كُفِرَ (القمر: 14))
“(bahteranya nabi Nuh as) berlayar dengan pantauan mata Kami. (seperti itulah musibah yang Kami turunkan) sebagai balasan bagi orang yang ingkar”.
“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”.
اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (طه: 5))
“Yang Maha Pengasih, yang bersemanyam di atas ‘Arsy”.
تَجْرِى بِأَعْيُنِنَا جَزَاءًا لِمَنْ كَانَ كُفِرَ (القمر: 14))
“(bahteranya nabi Nuh as) berlayar dengan pantauan mata Kami. (seperti itulah musibah yang Kami turunkan) sebagai balasan bagi orang yang ingkar”.
إِنَّ
الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ إِنَّمَايُبَايِعُوْنَ الله, يَدُ اللهِ فَوْقَ
أَيْدِيْهِمْ (الفتح: 10))
“Sesungguhnya orang-orang yang membai’at-mu ya Rasul, mereka-lah yang berikrar menerima (bahwa Tuhan mereka) adalah Allah. Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka”. وَلاَتَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ لاَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ كُلُّ شَيْئٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ (القصص: 88)
“Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa kecuali (wajah) Allah”.
“Sesungguhnya orang-orang yang membai’at-mu ya Rasul, mereka-lah yang berikrar menerima (bahwa Tuhan mereka) adalah Allah. Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka”. وَلاَتَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ لاَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ كُلُّ شَيْئٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ (القصص: 88)
“Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa kecuali (wajah) Allah”.
Muhkam ialah lafal yang artinya dapat diketahui dengan
jelas dan kuat secara berdiri sendiri tanpa ditakwilkan karena susunan
tertibnya tepat, dan tidak musykil, karena pengertiannya masuk akal, sehingga
dapat diamalkan karena tidak dinasakh. Sedangkan pengertian mutasyabih ialah
lafal-Al-Quran yang artinya samar, sehingga tidak dapat dijangkau oleh akal
manusia karena bisa ditakwilkan macam-macam sehingga tidak dapat berdiri
sendiri karena susunan tertibnya kurang tepat sehingga menimbulkan kesulitan
cukup diyakini adanya saja dan tidak perlu amalkan, karena merupakan ilmu yang
hanya dimonopoli Allah SWT.[3]
B. SIKAP
ULAMA TERHADAP AYAT-AYAT MUTASYABIH DAN AYAT- AYAT
MUHKAM
Menurut Al-Zarqani, ayat-ayat Mutasyabih dapat
dibagi 3 ( tiga ) macam :
1. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat mengetahui maksudnya, seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hari kiamat, hal-hal gaib, hakikat dan sifat-sifat zat Allah. Sebagian mana firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 59 :
Artinya : “dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang
mengetahui kecuali Dia sendiri.
1. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat mengetahui maksudnya, seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hari kiamat, hal-hal gaib, hakikat dan sifat-sifat zat Allah. Sebagian mana firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 59 :
Artinya : “dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang
mengetahui kecuali Dia sendiri.
2.
Ayat-ayat yang setiap orang bias mengetahui maksudnya melalui penelitian dan
pengkajian, seperti ayat-ayat : Hutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat
ringkas, panjang, urutannya,dan seumpamanya.
Contoh surat An-Nisa’ ayat 3 :
Contoh surat An-Nisa’ ayat 3 :
Artinya
: “dan jika kamu takut tidak adakn dapat berlaku adil terhadap ( hak-hak )
perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita”.
3.
Ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para Ulama tertentu
dan bukan semua Ulama. Maksud yang demikian adalah makna-makna yang tinggi yang
memenuhi hati seseorang yang jernih jiwanya dan mujahid. Sebagai mana
diisyaratkan oleh Nabi dengan do’anya bagi Ibnu Abbas :
Artinya
:“ Ya Tuhanku, jadikanlah seseorang yang paham dalam agama,dan ajarkanlah
kepada takwil”.[4]
Mengenal
ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah, pendapat Ulama terbagi
kepada dua mazhab :[5]
1.
Mazhab Salaf.
Yaitu
mazhab yang mempunyai dan mengimani sifat-sifat Allah yang Mutasyabih, dan
menyerahkan hakikatnya kepada Allah.
2.
Mazhab
Khakaf.
Yaitu Ulama yang menakwilkan lafal yang maknanya lahirnya
musthahil kepada makna yang baik bagi zat Allah, contohnya mazhab ini
mengartikan mata dengan pengawasan Allah, tangan diartikan kekuasaan Allah, dan
lain-lain.
Pada hakikatnya tidak ada pertentangan antara
pendapat ulama
tersebut, permasalahannya hanya berkisar pada perbedaan dalam menakwilkannya.
Secara teoritis pendapat ulama
dapat di kompromikan, dan secara praktis penerapan mazhab khalaf lebih dapat
memenuhi tuntutan kebutuhan intelektual yang semakin hari semakin berkembang
dan kritis. Dengan melihat kondisi obyektif intelektual masyarakat modern yang
semakin berpikir kritis dan dewasa, maka mazhab khalaf atau mazhab takwil
ini yang lebih tepat diterapkan dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat dengan
mengikuti ketentuan takwil yang dikenal dengan ilmu tafsir.
C. DALIL ADANYA MUHKAM DAN MUTASYABIH
Dalam al-Qur’an surat
Ali-Imron ayat 7 menyatakan adanya ayat-ayat yang muhkam dan mutasyabih
هُوَ
الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ
الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ
فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ
تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي
الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ
إِلا أُولُو الألْبَابِ
Artinya:
“Dialah yang menurunkan
Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu, diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang
muhkamat. Itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain
(ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada
kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk
menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang
mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya
berkata: “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari
sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan
orang-orang yang berakal.”
Dari ayat di atas secara eksplisit menyebutkan
bahwa ayat al-Qur’an dapat dibagi menjadi dua bagian. (1) Ayat Muhkamat, yang
merupakan pokok-pokok isi al-Qur’an dan menjadi landasannya serta menjadi
bagian terbesar darinya. (2) Ayat Mutasyabihat. Baik ayat yang muhkamat maupun
mutasyabihat, keduanya saling berhadap-hadapan. Artinya bahwa ayat yang muhkam
sebagai imbangan terhadap ayat yang mutasyabih. Hal ini sebagaimana kebenaran
berhadapan dengan kebatilan, orang-orang yang berilmu berhadapan dengan
orang-orang yang di dalam hatinyat terdapat kecenderungan sesat.[6]
D. FAKTOR-FAKTOR ADANYA
MUHKAM DAN MUTASYABIH
Disebabkan tersembunyinya apa yang dimaksud oleh syar’I
(Allah SWT) dalam kalimah ayat tersebut.
a.
Kadang-kadang ia terdapat
dalam lafadz atau kata
فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ
“Lalu dihadapinya berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya” (surat Shaffat: 93).
فَرَاغَ عَلَيْهِمْ ضَرْبًا بِالْيَمِينِ
“Lalu dihadapinya berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya” (surat Shaffat: 93).
Kata alyamiin mengandung 3 pengertian, yaitu:
1. Menggunakan tangan kanan, tidak tangan kiri
2. Memukul dengan keras, karena yang kanan ialah yang terkuat dari kedua anggota badan
3. Berarti sumpah
1. Menggunakan tangan kanan, tidak tangan kiri
2. Memukul dengan keras, karena yang kanan ialah yang terkuat dari kedua anggota badan
3. Berarti sumpah
b.
Kadang-kadang
ia kembali kepada pengertian atau makna, seperti apa yang dikhususkan Allah
dengan-Nya terhadap diri-Nya disebabkan ilmu-Nya. Contoh: huru-hara hari
kiamat, tanda-tanda kiamat besar. Atau Assa’ah, Syurga dan Neraka antara lain:
(QS. Al-Qiyamah: 6-13).[7]
E. FAWATIH AS SUWAR
Sebelum kita membahas
tentang Fawatih As Suwar, adakala baiknya terlebih dahulu kita bersama-sama
mengetahui apa yang dimaksud dengan Fawatih As Suwar itu sendiri.
Fawatih As Suwar itu
adalah kalimat-kalimat yang dipakai untuk pembukaan surat, ia merupakan bagian
dari ayat Mutasyabih karena ia bersifat mujmal (global), mu’awwal (memerlukan
takwil), dan musykil (sukar dipahami). Didalam
Al Qur’an terdapat huruf-huruf awalan dalam pembukaan surah dalam bentuk yang
berbeda-beda. Hal ini merupakan salah satu ciri kebesaran Allah dan ke
MahatahuanNya, sehingga kita terpanggil untuk menggali ayat-ayat tersebut.
Dengan adanya suatu keyakinan bahwa semakin dikaji ayat Al Qur’an itu, maka
semakin luas pengetahuan kita. Hal ini dapat dibuktikan dengan perkembangan ilmu
tafsir yang kita lihat hingga sekarang ini.[8]
Adapun untuk memperjelas lagi apa itu ayat
Fawatih As Suwar, maka dengan ini kami tampilkan ayat-ayatnya sebagai berikut.[9]
Awalan surah yang terdiri dari satu huruf, ini
terdapat pada tiga surah.
Surah
Shad: ص. و القرآن ذى الذكر
Surah
Qaaf:و القرآن المجيد ق.
Surah Al
Qolam: ن. و القلم و ما يسترون
Awalan surah yang terdiri
dari dua huruf, ini terdapat pada sepuluh surah :
Surah Al Mukmin حم
Surah Fushilat حم
Surah Asy-Syura حم
Surah Az Zukhruf. حم
Surah Ad Dukhan. حم
Surah Al Jasyiah. حم
Surah Al Ahqaf. حم
Surah Thaha.طه
Surah An-Naml.طس
Surah Yasin. يس
Tujuh dari sepuluh surah
diatas, ini dinamakan Hawwaamiim.[10]
Awalan surah yang terdiri dari tiga huruf, ini terdapat pada tiga belas surah, yaitu :
Awalan surah yang terdiri dari tiga huruf, ini terdapat pada tiga belas surah, yaitu :
v Enam surah diawali Alif Lam Mim (الم)
Surah Al Baqoroh
Surah Ali Imran
Surah Al Ankabut
Surah Ar Rum
Surah Luqman
Surah As-Sajada
Surah Al Baqoroh
Surah Ali Imran
Surah Al Ankabut
Surah Ar Rum
Surah Luqman
Surah As-Sajada
v Lima surah diawali dengan Alif Lam Ro (الر)
Surah Yunus
Surah Hud
Surah Yusuf
Surah Ibrahim
Surah Al Hijr
Surah Yunus
Surah Hud
Surah Yusuf
Surah Ibrahim
Surah Al Hijr
v Dua surah yang diawali dengan Tha Sin Mim (طسم)
Surah Asy Syu’ara
Surah Al Qoshosh
Surah Asy Syu’ara
Surah Al Qoshosh
Awalan surah yang terdiri dari empat huruf, ini terdapat
pada dua tempat, yaitu :
Surah Al A’araf. المص
Surah Ar Ra’du. المر
Surah Al A’araf. المص
Surah Ar Ra’du. المر
Awalan surah yang terdiri dari lima huruf, ini hanya
terdapat pada surah Maryam, yaitu : كهيعص .
Dari ketiga belas
ayat-ayat Fawatih As Suwar yang tersebut di atas, dengan ini kami selaku
pemakalah (berpendapat) akan mengambil satu ayat sebagai penjelasan, yaitu Alif
Lam Mim (الم). Didalam tafsir Jalalin mengenai
ayat-ayat Fawatih As Suwar ini sudah dijelaskan tidak bisa ditafsirkan (menurut
golongan madzhab salaf), hanya Allahlah yang Maha Mengetahui.
Yaitu Alif Lam Mim ditafsirkan dengan وَاللهُ
اَعْلَمُ بِمُرَدِهِ
Artinya
“Dan Allah Maha Lebih Mengetahui dengan
maksudNya”.
Dan ada lagi didalam tafsir Marohi syarach Imam
Nawawi, Alif Lam Mim beliau tafsirkan mengambil pendapat Imam Syu’bi dan
Jama’ah, yaitu :
قَالَ الشُّعْبِى وَجَمَاعَةٌ الم وَسَائِرُ حُرُوْفِ الهِجَاءِ فِى اَوَائِلِ السُّوَّرِ مِنَ المُتَشَابِهِ الَّذِى اِنْفَرَدَ اللهُ بِعِلْمِهِ وَهِىَ سِرُّ القُرْأَنِ فَنَحْنُ نُؤْمِنُ بِظَاهِرِهَا وَنَفُوْضُ العِلْمَ فِيْهَا اِلَى اللهِ تَعَالَى. وَفَائِدَةُ ذِكْرِهَا طَلَبُ الاِيْمَانِ بِهَا.
Artinya:
قَالَ الشُّعْبِى وَجَمَاعَةٌ الم وَسَائِرُ حُرُوْفِ الهِجَاءِ فِى اَوَائِلِ السُّوَّرِ مِنَ المُتَشَابِهِ الَّذِى اِنْفَرَدَ اللهُ بِعِلْمِهِ وَهِىَ سِرُّ القُرْأَنِ فَنَحْنُ نُؤْمِنُ بِظَاهِرِهَا وَنَفُوْضُ العِلْمَ فِيْهَا اِلَى اللهِ تَعَالَى. وَفَائِدَةُ ذِكْرِهَا طَلَبُ الاِيْمَانِ بِهَا.
Artinya:
“ Alif Lam Mim itu adalah
menjadi rahasia pada seluruh huruf hijaiyah pada awal surah dari ayat
mutasyabih yang telah disatukan oleh Allah dengan ilmuNya, yaitu menjadi rahasia
Al Qur’an. Maka kami beriman dengan zhohirnya dan kami
menuntut ilmu padanya hingga kepada Allah Ta’ala. “
Tafsiran ini, menurut kami sudah jelas bahwa
Imam Syu’bi termasuk golongan madzhab salaf. Beliau tidak mau menafsirkan
lafadz Alif Lam Mim ini karena beliau takut tersesat sehingga beliau mengatakan
biarlah ini menjadi rahasia Al Qur’an. Akan tetapi, beliau tetap beriman dengan
zhohirnya dan beliau tetap menuntut dan memohon diberikan ilmu lebih dari Allah
Swt.
Dan dipenghujung tafsir Abu Bakar r.a. berkata:
فِى كُلِّ كِتَابٍ سِرٌّ وَسِرُّ اللهِ فِى القُرْأَنِ أَوَائِلُ السُّوَرِ.
“ Didalam seluruh kitab mempunyai rahasia, dan
rahasia Allah didalam Al Qur’an itu ada pada awal surah “.
Hal ini bertolak belakang dengan Ibnu Abbas
r.a. beliau mampu untuk menafsirkannya, yaitu kata beliau
فِى قَوْلِهِ (الم) قَالَ : اَنَا اَللهُ اَعْلَمُ. وَفِى قَوْلِهِ (الَمَصَ) قَالَ : اَنَا اَللهُ اُفَصِّلُ. وَفِى قَوْلِهِ (الر) قَالَ : أَنَا اَللهُ اَرَى.
“ Tentang firman Allah Alif Lam Mim adalah Aku Allah Maha Mengetahui, tentang Alif Lam Mim Shodh adalah Aku Allah akan memperinci, dan Alif Lam Ro adalah Aku Allah Maha Melihat”. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalan Abu Al-Dhuha)
Dan ada lagi dari Ibnu Abbas r.a. dengan
tafsirannya sebagai berikut :
قَالَ : الر وَ حم وَ ن حُرُوْفُ الرَّحْمَنِ مُفَرَّقَةً.
“ Tentang ( firman Allah) pada ayat Alif Lam Ro, Ha Mim, dan Nun adalah huruf-huruf Ar Rahman yang dipisahkan “. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Jalan Ikrimah)
قَالَ : الر وَ حم وَ ن حُرُوْفُ الرَّحْمَنِ مُفَرَّقَةً.
“ Tentang ( firman Allah) pada ayat Alif Lam Ro, Ha Mim, dan Nun adalah huruf-huruf Ar Rahman yang dipisahkan “. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Jalan Ikrimah)
Dan masih banyak lagi pendapat dari ulama yang
menafsirkan ayat Fawatih As Suwar, seperti Salim Ibnu Abdillah, Al Saddiy, Al
Baidhawi dan lain-lain. Akan tetapi disini, kami hanya menampilkan pendapat
Ibnu Abbas r.a. karena menurut kami Ibnu Abbas r.a. memang patut mendapatkan
anugerah yang luar biasa. Karena ia bisa mentakwilkan ayat mutasyabihat, berkat
atas do’a Rosulullah S.a.w. yang sudah kami jelaskan sebelumnya.[11]
BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian ayat-ayat
muhkam dan mutasyabih diatas, dapat dipahami sebagai berikut : Muhkam adalah
ayat yang sudah jelas maksudnya ketika kita membacanya. Sedangkan ayat
mutasyabihat adalah ayat-ayat yang perlu ditakwilkan, dan setelah ditakwilkan
barulah kita dapat memahami tentang maksud ayat.
Ayat mutasyabih adalah
merupakan salah satu kajian dalam ilmu Al Qur’an yang para ulama menilainya
dengan alasan masing-masing, seperti Ulama Tafsir, Madzhab Salaf, Madzhab
Khalaf dan Ulama’ Ahlulbait.
Fawatih As Suwar itu
adalah kalimat-kalimat yang dipakai untuk pembukaan surat, ia merupakan bagian
dari ayat Mutasyabih karena ia bersifat mujmal (global), mu’awwal (memerlukan
takwil), dan musykil (sukar dipahami).
Pada penafsiran ayat
Fawatih As Suwar terjadi perselisihan dua golongan ulama, yaitu golongan pertama
mengatakan bahwa ayat Fawatih As Suwar itu tidak bisa ditakwilkan, mereka ini
adalah Imam Syu’bi dan Jama’ah, serta tafsir Jalalin. Sedangkan golongan yang
kedua ini mengatakan bahwa ayat Fawatih As Suwar itu bisa ditakwilkan, mereka
ini adalah Ibnu Abbas r.a., Salim Ibnu Abdillah, Al Saddiy, Al Baidhawi dan
lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Abu. Sebuah Pengantar Ulumul Qur’an;. (Pekanbaru: Amzah, 2005).
Ichwan , Nur,
Muhammad, Memahami Bahasa Al-Qur’an, Yogyakarta,
Pustaka Pelajar, 2002.
Kahar
Manshur, Drs. Pokok-pokok Ulumul Qur’a. Jakarta., Renika Cipta. 1992
Maliki, al-husni, Muhammad bin ‘Alawi Al-. Mutiara Ilmu-ilmu Qur’an. Bandung
: Pustaka Setia. terj. Rosihan Anwar, 1999.
Masyhur, Kahar,
Drs. H. Pokok-pokok Ulumul Qur’an,
Jakarta, Rineka Cipta, 1992
Nor , Mohammad,M.A., Memahami Bahasa al-Qur’an, Yogyakarta, Pustaka Pelajar,
2002.
Shiddieqy, Hasbi
Ash- Ilmu-Ilmu Al Qur’an, (Jakarta : Bulan Bintang, 1995)
Soleh, Subhi al-, Dari.
Terjemahan Pustaka Firdaus, Mabahits fi Ulumul Qur’an, (Jakarta :
Pustaka Firdaus, 1993.
Supiana karman muhammad, M.Ag. Ulumul Qur’an dan Pengenalan Metodologi
Tafsir, Bandung, Pustaka Islamika, 2002.
[1] Muhammad Karman
Supiana, M.Ag. Ulumul
Qur’an dan Pengenalan Metodologi Tafsir, Bandung, Pustaka Islamika, 2002,hal 271
[4]
Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki al-husni. 1999. Mutiara
Ilmu-ilmu Qur’an. Bandung : Pustaka Setia. terj. Rosihan Anwar,hal 234-236
[5] Dar
Al Subhi Soleh, Terjemahan Pustaka Firdaus, Mabahits fi Ulumul Qur’an,
(Jakarta : Pustaka Firdaus, 1993), hlm. 372-373
[6]
Drs. H. Kahar Masyhur, Pokok-pokok Ulumul Qur’an, Jakarta, Rineka Cipta,
1992, hlm. 125-126
[7]
Muhammad Nor Ichwan, Memahami Bahasa Al-Qur’an, Yogyakarta, Pustaka
Pelajar, 2002, hlm. 254.
[8]
Anwar, op. Cit., hlm. 89.
[10] Hawwaamiim adalah jamak dari haa miim, yaitu
surah-surah yang diawali dengan huruf ha dan mim. Lihat pada
Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al Qur’an, (Jakarta : Bulan Bintang,
1995), hlm. 124.
No comments:
Post a Comment