Kemarin, tepatnya 28 Oktober 2011 bangsa Indonesia
memperingati hari Sumpah Pemuda. dengan mengingat sumpah pemuda ini, diharapkan
bangsa Indonesia benar-benar memahami dan melaksanakan isi dari sumpah pemuda
tersebut.
ISI SUMPAH PEMUDA :
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Pernyataan di atas adalah kutipan isi dari sumpah pemuda yang dibacakan pada kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dengan semangat tersebut, bangsa kita dapat bersatu dengan semangat kebersamaan sehingga mampu mengusir penjajah dengan jiwa patriotisme.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Pernyataan di atas adalah kutipan isi dari sumpah pemuda yang dibacakan pada kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dengan semangat tersebut, bangsa kita dapat bersatu dengan semangat kebersamaan sehingga mampu mengusir penjajah dengan jiwa patriotisme.
Namun kenyataannya, generasi muda sekarang
cendrung cuek dengan isi sumpah pemuda tersebut. seperti tidak menggunakan
bahasa Indonesia yang baik sebagai bahasa resmi.
Yang lebih memprihatinkan adalah ketika para
pemuda menggunakan bahasa binatang dan jorok dalam pergaulan mereka. bukan
hanya pemuda, tapi anak-anakpun sudah mulai meniru apa yang mereka dengar dari
orang sekeliling mereka.
sungguh ini sangat ironis dan memalukan. kalau
ini tidak segera diperbaiki, saya khawatir, bahasa Indonesia lama kelamaan akan
berubah dan tercoreng di mata dunia.
Salah satu cara untuk memperbaiki ini semua
adalah dengan "mengindonesiakan" dunia adalah
lewat lagu. Mungkin diplomasi ini yang belum terealisasikan secara sempurna,
baik oleh musisi ataupun diplomat. Maksud saya, meski sudah banyak lagu bagus
yang diciptakan seniman kita, namun sangat sedikit yang mendunia. Sebaliknya
kita sangat welcome dengan lagu berbahasa asing. Bukan hanya Inggris dan
irlandia tapi juga lagu China, Jepang dan India, bahkan akhir-akhir ini
dihebohkan dengan lagu korea. Sudah selayaknya seniman kita beserta produsernya
membidik segmen ini.
Kalau untuk Malaysia dan Singapore tak usah khawatir, kita menyaksikan di
Bukit Bintang banyak band lokal my menyanyikan nyaris seluruh lagu pop kreasi
anak muda kita seperi Ungu Peterpan, D'Masive, Dewa dsb. Begitu pula di sg.
Mungkin usaha kebudayaan bisa dirintis lagi, tapi untuk negara dengan
berpenduduk besar seperti USA, Jepang dan beberepa negara Eropa yang ada ikatan
sejarah dengan kita seperti Belanda, Inggris, dan Portugal.
Tidak usah malu meniru diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Marcos dan
seniman Phillipina yang dengan cerdik bukan saja mampu menarik ADB untuk
berkantor di Manila, tetapi juga bisa mendatangkan penyanyi besar seperti Nat
King Cole yang "digiring" menyanyikan salah satu love song terbaik
dunia "Dahil Saiyo - Because of You" dalam bahasa Tagalog.
Usaha yang telah dilakukan oleh beberapa seniman dan produser untuk penyanyi
top Julio Iglesias yang berduet dengan Glen Fredly dan Andre Hehanusa
menyanyikan lagu cinta versi bahasa Indonesia patut diacungi jempol sebagai
upaya taktis "mengindonesiakan" dunia. Tapi tentu saja frekuensi yang
"angat-angat tahi ayam" ini terasa masih sangat kurang dan perlu
ditingkatkan.
Mungkin setiap kali lawatan tim kesenian Indonesia, perlu disiapkan sesi
khusus "mengindonesiakan" dunia dengan mencari lagu-lagu terbaik kita
–tapi lagu yang mudah dan tidak “njelimet”- dan mengajak audiens menyanyikannya.
Bukankah merancang visual tampilan untuk berkaraoke (menampilkan lirik) di
monitor sudah sangat maju. Andai setiap kali misi kesenian nasional yang
mengusung musik daerah juga bisa menyelipkan acara "mengindonesiakan
dunia” ini, tentulah bahasa Indonesia akan cepat “mewabah”.
Mungkin ini yang kurang, dan itu menjadi tugas kita semua. Semoga kita mau
dan percaya diri melakukannya. Mudah saja, jika anda bisa menyanyi, maka jika
di setiap acara anda ikut menyanyikan lagu berbahasa Indonesia, anda sudah
mencicil tugas mulia itu. Atau jika suatu saat, anda merasa musik yang
disajikan dalam suatu acara didominasi musik barat, anda bisa saja “request”
lagu-lagu berbahasa Indonesia. Tapi hati-hati tentu tidak mudah, terlebih jika
anda juga keceplosan berkata “bisa request mbak?”, karena artinya anda masih
bingung menerjemahkan kata itu.
Itulah yang sering terjadi di Indonesia seperti
saya ungkapkan dalam ilustrasi di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke dua,
atau bahkan tidak diperlukan sama sekali. Parahnya, ini tidak hanya terjadi di
dunia musik, tapi juga Birokrasi pemerintah, bahkan Kepala Negara terlihat
lebih suka mendepankan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Tengoklah
bagaimana Presiden merumuskan semboyan kabinetnya. Dalam bahasa Inggris! Bahasa
Indonesia ditampilkan sebagai terjemahan belaka. Kalau Presiden lebih suka
mendepankan bahasa Inggris, jangan heran kalau bangsa ini lebih suka memakai
produk-produk dari luar, ketimbang produk bangsa sendiri. Karena kepada mereka
setiap hari diajarkan bahwa yang berasal dari luar itu lebih baik. Itulah yang
sedang dipamerkan para pemimpin, khususnya sang Presiden. Sebagai penutup, saya
ajukan pertanyaan untuk Anda renungkan. “Anda mungkin malu kalau kemampuan
berbahasa Inggris Anda jelek. Tapi pernahkah Anda merasa malu kalau kemampuan
berbahasa Indonesia Anda jelek?”
Lalu pertanyaannya adalah kekuatan SUMPAH
Pemuda Indonesia masih amat kental atau malah sebaliknya sudah amat lapuh…….
By : Muhammad Fauzy Nuddin, CSS MoRA & Pengurus PK PT IPNU IAIN Surabaya

No comments:
Post a Comment