Friday, November 11, 2011

Mengindonesiakan Dunia dengan “Sumpah Pemuda”


Kemarin, tepatnya 28 Oktober 2011 bangsa Indonesia memperingati hari Sumpah Pemuda. dengan mengingat sumpah pemuda ini, diharapkan bangsa Indonesia benar-benar memahami dan melaksanakan isi dari sumpah pemuda tersebut.
ISI SUMPAH PEMUDA :
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Pernyataan di atas adalah kutipan isi dari sumpah pemuda yang dibacakan pada kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dengan semangat tersebut, bangsa kita dapat bersatu dengan semangat kebersamaan sehingga mampu mengusir penjajah dengan jiwa patriotisme.
Namun kenyataannya, generasi muda sekarang cendrung cuek dengan isi sumpah pemuda tersebut. seperti tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik sebagai bahasa resmi.
Yang lebih memprihatinkan adalah ketika para pemuda menggunakan bahasa binatang dan jorok dalam pergaulan mereka. bukan hanya pemuda, tapi anak-anakpun sudah mulai meniru apa yang mereka dengar dari orang sekeliling mereka.
sungguh ini sangat ironis dan memalukan. kalau ini tidak segera diperbaiki, saya khawatir, bahasa Indonesia lama kelamaan akan berubah dan tercoreng di mata dunia.
Salah satu cara untuk memperbaiki ini semua adalah dengan  "mengindonesiakan" dunia adalah lewat lagu. Mungkin diplomasi ini yang belum terealisasikan secara sempurna, baik oleh musisi ataupun diplomat. Maksud saya, meski sudah banyak lagu bagus yang diciptakan seniman kita, namun sangat sedikit yang mendunia. Sebaliknya kita sangat welcome dengan lagu berbahasa asing. Bukan hanya Inggris dan irlandia tapi juga lagu China, Jepang dan India, bahkan akhir-akhir ini dihebohkan dengan lagu korea. Sudah selayaknya seniman kita beserta produsernya membidik segmen ini.
Kalau untuk Malaysia dan Singapore tak usah khawatir, kita menyaksikan di Bukit Bintang banyak band lokal my menyanyikan nyaris seluruh lagu pop kreasi anak muda kita seperi Ungu Peterpan, D'Masive, Dewa dsb. Begitu pula di sg. Mungkin usaha kebudayaan bisa dirintis lagi, tapi untuk negara dengan berpenduduk besar seperti USA, Jepang dan beberepa negara Eropa yang ada ikatan sejarah dengan kita seperti Belanda, Inggris, dan Portugal.
Tidak usah malu meniru diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Marcos dan seniman Phillipina yang dengan cerdik bukan saja mampu menarik ADB untuk berkantor di Manila, tetapi juga bisa mendatangkan penyanyi besar seperti Nat King Cole yang "digiring" menyanyikan salah satu love song terbaik dunia "Dahil Saiyo - Because of You" dalam bahasa Tagalog.
Usaha yang telah dilakukan oleh beberapa seniman dan produser untuk penyanyi top Julio Iglesias yang berduet dengan Glen Fredly dan Andre Hehanusa menyanyikan lagu cinta versi bahasa Indonesia patut diacungi jempol sebagai upaya taktis "mengindonesiakan" dunia. Tapi tentu saja frekuensi yang "angat-angat tahi ayam" ini terasa masih sangat kurang dan perlu ditingkatkan.
Mungkin setiap kali lawatan tim kesenian Indonesia, perlu disiapkan sesi khusus "mengindonesiakan" dunia dengan mencari lagu-lagu terbaik kita –tapi lagu yang mudah dan tidak “njelimet”- dan mengajak audiens menyanyikannya. Bukankah merancang visual tampilan untuk berkaraoke (menampilkan lirik) di monitor sudah sangat maju. Andai setiap kali misi kesenian nasional yang mengusung musik daerah juga bisa menyelipkan acara "mengindonesiakan dunia” ini, tentulah bahasa Indonesia akan cepat “mewabah”.
Mungkin ini yang kurang, dan itu menjadi tugas kita semua. Semoga kita mau dan percaya diri melakukannya. Mudah saja, jika anda bisa menyanyi, maka jika di setiap acara anda ikut menyanyikan lagu berbahasa Indonesia, anda sudah mencicil tugas mulia itu. Atau jika suatu saat, anda merasa musik yang disajikan dalam suatu acara didominasi musik barat, anda bisa saja “request” lagu-lagu berbahasa Indonesia. Tapi hati-hati tentu tidak mudah, terlebih jika anda juga keceplosan berkata “bisa request mbak?”, karena artinya anda masih bingung menerjemahkan kata itu.
Itulah yang sering terjadi di Indonesia seperti saya ungkapkan dalam ilustrasi di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke dua, atau bahkan tidak diperlukan sama sekali. Parahnya, ini tidak hanya terjadi di dunia musik, tapi juga Birokrasi pemerintah, bahkan Kepala Negara terlihat lebih suka mendepankan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Tengoklah bagaimana Presiden merumuskan semboyan kabinetnya. Dalam bahasa Inggris! Bahasa Indonesia ditampilkan sebagai terjemahan belaka. Kalau Presiden lebih suka mendepankan bahasa Inggris, jangan heran kalau bangsa ini lebih suka memakai produk-produk dari luar, ketimbang produk bangsa sendiri. Karena kepada mereka setiap hari diajarkan bahwa yang berasal dari luar itu lebih baik. Itulah yang sedang dipamerkan para pemimpin, khususnya sang Presiden. Sebagai penutup, saya ajukan pertanyaan untuk Anda renungkan. “Anda mungkin malu kalau kemampuan berbahasa Inggris Anda jelek. Tapi pernahkah Anda merasa malu kalau kemampuan berbahasa Indonesia Anda jelek?”
Lalu pertanyaannya adalah kekuatan SUMPAH Pemuda Indonesia masih amat kental atau malah sebaliknya sudah amat lapuh…….

By : Muhammad Fauzy Nuddin, CSS MoRA & Pengurus PK PT IPNU IAIN Surabaya


No comments:

Post a Comment