Setiap manusia memang selalu ingin tahu. Keingintahuan manusia itu barangkali sudah terbentuk sejak penciptaannya, lantas ia mencari. Hasilnya, ia tahu sesuatu. Sesuatu itulah ilmu pengetahuan. Jadi pengetahuan ialah semua yang diketahui. Semakin bertambah umur manusia, semakin banyak pula pengetahuannya. Katakanlah ketika ia telah berusia 40 tahunan, pengetahuannya sudah banyak sekali. Begitu banyaknya, sampai-sampai ia tidak tahu lagi berapa banyak pengetahuannya dan tidak tahu lagi apa saja yang diketahuinya. Bahkan, terkadang ia juga tidak tahu apa sebenarnya pengetahuan itu.
Dilihat dari segi motif, pengetahuan diperoleh melalui dua cara. Pertama, pengetahuan yang diperoleh begitu saja, tanpa niat, tanpa tujuan, tanpa keingintahuan dan tanpa usaha. Kedua, pengetahuan yang didasari motif ingin tahu. Pengetahuan ini diperoleh karena memang diusahakan, biasanya dengan cara belajar. Pengetahuan yang diusahakan inilah yang dibahas dalam buku Filsafat Ilmu karya Prof. Dr. Ahmad Tafsir ini.
Dalam buku ini diperkenalkan tiga macam jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan sain, pengetahuan filsafat dan pengetahuan mistik. Ketiga pengetahuan tersebut memiliki objek, paradigma, metode, dan kriteria tersendiri. Pemahaman kita terhadap ketiga pengetahuan ini sangat penting agar kita dapat memperlakukan masing-masing pengetahuan itu sesuai dengan kevelingnya masing-masing.
Pengetahuan sain ialah pengetahuan yang rasional dan didukung bukti empiris. Dalam bentuknya yang sudah baku, pengetahuan sain memiliki paradigma sain dan metode yang disebut metode ilmiah. Formula utamanya adalah pembuktian bahwa suatu itu rasional dan bersifat empiris. Contohnya yang paling sederhana, seseorang ingin tahu, jika bibit jeruk ditanam, buah apa yang dihasilkan? Ia lalu menanam bibit jeruk. Ia tunggu beberapa tahun, dan ternyata buah jeruk yang dihasilkannya. Pengetahuan jenis inilah yang disebut pengetahuan sain (scientific knowledge).
Bila kita berpikir secara lebih serius, bagaimana jeruk selalu berbuah jeruk? Untuk menjawab pertanyaan ini kita tidak dapat melakukan penelitian secara empiris karena jawabannya tidak terletak pada bibit atau pohonnya. Jeruk selau berbuah jeruk sebab ada hukum yang mengatur agar jeruk berbuah jeruk. Para ahli mengatakan hukum itu ada dalam gen jeruk. Hukum itu tidak kelihatan (tidak empiris), tetapi akal mengatakan hukum itu ada dan bekerja. Inilah pengetahuan filsafat.
Kebenaran pengetahuan filsafat hanya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional, namun tidak dapat dibuktikan secara empiris. Objek penelitiannya adalah objek-objek abstrak dan temuannya juga abstrak, paradigmanya ialah paradigma rasional dan metodenya juga rasional (Kerlinger menyebutnya method of reason).
Lalu, suatu ketika ada orang ingin tahu lebih jauh lagi. Siapakah yang membuat hukum bahwa jeruk selalu berbuah jeruk? Pertanyaan ini masih bias dijawab dengan pengetahuan filsafat. Salah satu teori filsafat mengatakan hukum tersebut dibuat oleh yYang Maapintar, yang disebut Tuhan. Ini masih pengetahuan filsafat.
Mungkin ada orang yang ingin tahu lebih jauh lagi, siapa Tuhan itu? Pertanyaan “nekat” semacam ini tidak bias dilayani dengan pengetahuan sain maupun filsafat karena objek yang ingin diketahui bukan objek empiris, juga tidak dapat dijangkau akal rasional. Obyek itu abstrak-suprarasional atau metarasional.
Obyek abstrak-suprarasional itu dapat diketahui dengan rasa bukan dengan pancaindra atau akal rasional. Bergson menyebut alat itu intuisi, Kant menyebutnya moral, filosof muslim seperti ibnu Sina menyebutnya akal mustafad, para sufi menyebutnya qalb, dzawq, kadang-kadang dhamir, kadang-kadang sirr. Pengetahuan jenis ini disebut mistik. Paradigmanya ialah paradigma mistik, sedangkan metodenya disebut metode latihan (riyadhah) dan keyakinan. Kebenarannya pada umumnya tidak dapat dibuktikan secara empiris.
(Muhammad Fauzinudin, Mahasiswa IAIN Sunan ampel Surabaya)
No comments:
Post a Comment