Saturday, November 12, 2011

"Antara Mahasantri & Budaya batik"


Sejak UNESCO mengakui batik sebagai Intangible Cultural Heritage pada (02/10/09) silam, batik semakin mendunia. Sebagai indikasi resmi,pada 2 Oktober disahkan dan ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Untuk kembali mengilhami batik sebagai warisan budaya, Keluarga besar program penerima beasiswa santri berprestasi yang dimotori oleh KEMENAG RI  untuk perguruan tinggi ternama Regional Timur(meliputi IAIN Sunan Ampel,UNAIR dan ITS untuk kampus daerah surabaya dan UIN Maulana Malik Ibrahim untuk daerah malang) mengajak Mahasiswa penerima beasiswa untuk bersama-sama mengenakan batik dalam rangka silaturrohim pada hari ahad 23 oktober 2011 dan yang menjadi tuan rumah silaturrohim adalah dari kampus daerah selatan UIN Maliki Malang.

ajakan untuk memakai baju batik oleh tuan rumah UIN Malang sangat ada korelasinya mengingat silaturrohmi diadakan pada bulan Oktober, yaitu dibulan yang mana ditetapkan sebagai Hari Batik Nasioanal(tanggal 2 oktober adalah hari batik nasional).
substansinya Batik bukan hanya produk komersil, tetapi sebuah proses kreatif dari masyarakat, sehingga harus disosialisasikan dan diinternalisasikan nilainya kepada semua pihak, Ajakan peringatan hari batik bukan sekedar dengan memakai batik untuk ajang silaturrohmi  tapi disertai penanaman nilai dasar kecintaan pada batik.

Dalam silaturrohmi yang ke-empat ini yang jua untuk memperingati hari batik tersebut, Sesi Acara UIN maliki  Binti Rimayatul Mash fee, Intan, Muslih Adlan, Ima dan Andre menghimbau kepada setiap PTN yang diundang untuk menampilkan pensi atau drama yang berkenaan dengan tradisional atau tentang batik tanah tanah air. Dengan mengusung tema "Jalin silturohmi, Buktikan eksistensi diri bersam santri", mengajak mahasantri untuk mencurahkan gagasan dan ide mengenai batik setelah menjadi warisan budaya dunia.
            Menghargai batik tidak cukup sebatas dengan memasifkan pemakaian batik di masyarakat." Kita menghargai batik juga dengan menyadari bahwa batik adalah milik kita dan harus dilestarikan, lanjut sesi acara jurusan kimia UIN Maliki Binti Rimayah.

Batik Warisan Dunia

"Pengakuan UNESCO memang menjadi pendorong masyarakat khususnya untuk melestarikan batik,". Dengan pengakuan tersebut maka dunia sudah memberikan pengakuan khusus terhadap teknik, teknologi serta pengembangan motif dan budaya batik tanah air ini. Batik terkait dengan identitas budaya rakyat Indonesia melalui berbagai arti simbolik dari warna dan corak yang mengekspresikan kreatifitas rakyat Indonesia. UNESCO memasukkan Batik Indonesia ke dalam Representative List karena telah memenuhi kriteria, antara lain kaya dengan simbol-simbol dan filosofi kehidupan rakyat Indonesia.

By : Muhammad Fauzy Nuddin, CSS MoRA IAIN Surabaya


Friday, November 11, 2011

Langkah Setan Menelanjangi Kaum Wanita


Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis-su’i). Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian muslimah. Berikut ini tahapan-tahapannya. 
1.     Menghilangkan Definisi Hijab
Dalam tahap ini setan membisikkan kepada para wanita, bahwa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekedar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar’I, pakaian ya pakaian, apapun bentuk dan namanya.
Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian juga ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.
Berbeda halnya jika seseorang wanita berkeyakinan, bahwa hijab adalah pakaian syar’I (identitas keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekedar mode. Biarpun hidup kapan saja dan di mana saja, maka hijab sayr’I tetap dipertahankan.
Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka setan berdalih dengan strategi yang lebih halus. Caranya?

Pertama, Membuka Bagian Tangan
Telapak tangan mungkin sudah terbiasa terbuka, maka setan membisikkan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bagian hasta (siku hingga telapak tangan). “Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju yang panjang?” Begitu biskan setan. Dan benar sang wanita akhirnya memakai pakaian model baru yang menampakkan tangannya, dan ternyata para lelaki yang melihatnya juga biasa-biasa saja. Maka setan berbisik, “Tuh tidak apa-apa kan?”

Kedua, Membuka Leher dan Dada
Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah setan untuk membisikkan hal baru lagi. “Kini buka tangan sudah lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bagian atas dada kamu.” Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sedikit untuk mendapatkan hawa, agar tidak gerah. Cobalah! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya bagian kecil saja yang terbuka.
Maka dipakailah pakaian model baru yang terbuka bagian leher dan dadanya dari yang model setengah lingkaran hingga yang model bentuk huruf “V” yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bagian sensitif lagi dari dadanya.

Ketiga, Berpakaian Tapi Telanjang
Setan bebisik lagi, “Pakaian kok hanya gitu-gitu saja, cari model atau bahan lain yang lebih bagus! Tapia apa ya? Sang wanita bergumam. “Banyak model dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih enak dipandang.” Setan memberi ide baru.
Maka tergodalah si wanita, di carilah model pakaian yang ketat dan kain yang tipis bahkan transparan. “Nggak apa-apa kok, kan potongan kainnya masih panjang, hanya bahan dan modelnya saja yang agak berbeda, biar nampak lebih fiminin.” Begitu dia menambahkan. Walhasil, pakaian tersebut akhirnya membudaya dikalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparan, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi shallallahu ‘alalihi wasallam sebagai wanita kasiyat ‘ariyat (berpakaian tetapi telanjang).

Keempat, Agak di Buka Sedikit
Setelah para wanita muslimah mengenakan busana yang ketat, maka setan datang lagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan ide baru yang sepertinya segar dan enak, yakni dibisiki wanita itu, “Pakaian seperti ini membuat susah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa nggak sebaiknya di belah hingga lutut atau mendekati paha? Dengan itu kamu akan lebih leluasa, lebih kelihatan lincah dan enerjik.”
Lalu dicobalah ide baru itu, dan memang benar dengan dibelah mulai bagian bawah hingga lutut atau mendekati paha ternyata membuat lebih enak dan leluasa, terutama ketika akan duduk atau naik ke jok mobil. “Yah tersingkap sedikit nggak apa-apa lah, yang penting enjoy.” Katanya.
Inilah tahapan awal setan merusak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh dan panjang, hanya model, corak, potongan, dan bahan saja yang dibuat berbeda dengan hijab syar’I yang sebenarnya. Maka kini mulailah setan pada tahapan berikutnya yakni :
1.     Terbuka Sedikit Demi Sedikit
Kini setan melangkah lagi, dengan trik dan siasat lain yang lebih ampuh, tujuannya agar para wanita menampakkan bagan aurat tubuhnya.

Pertama, Membuka Telapak Kaki dan Tumit
Setan berbisik kepada para wanita, “Baju panjang benar-benar membuat repot, kalau hanya dengan membelah sedikit bagiannya masih kurang leluasa, lebih enak kalau di potong saja hingga atas mata kaki.” Ini baru agak longgar. “Oh ada yang kelupaan, kalau kalau kamu pakai baju demikian, maka jilbab yang besar tidak cocok lagi, sekarang kamu cari jilbab yang kecil agar lebih serasi dan gaul, toh orang tetap menamakannya dengan jilbab.”
Maka, para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini buru-buru mencari model pakaian yang dimaksudkan. Tak ketinggalan sepatu hak tinggi, yang kalau untuk berjalan mengeluarkan suara yang menarik perhatian orang.

Kedua, Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis
Terbuka telapak kaki telah terbiasa dilakukan, dan ternyata orang-orang yang melihat juga tidak begitu peduli. Maka setan kembali berbisik, “Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak bereaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang. Kalau langkah kakimu masih kurang leluasa, maka cobalah kamu cari model lain yang lebih enak, bukankah kini banyak rok setengah betis dijual dipasaran? Tidak usah terlalu mencolok, hanya terlihat kira-kira sepuluh senti saja. Nanti kalau sudah terbiasa, baru kamu cari model baru yang terbuka hingga setengah betis.”
Benar-benar bisikan setan dan hawa nafsu telah menjadi penasihat pribadinya, sehingga apa saja yang dibisikkan setan dalam jiwanya dia turuti. Maka, terbiasalah dia memakai pakaian yang terlihat separuh betisnya ke mana saja dia pergi.

Ketiga, Terbuka Seluruh Betis
Kini di mata si wanita, zaman benar-benar telah berubah, setan telah berhasil membalikkan pandangan jernihnya. Terkadang sang wanita berpikir, apakah ini tidak menyelisihi para wanita di masa Nabi dahulu. Namun, buru-buru- bisikan setan dan hawa nafsu menyahut, “Ah jelas enggak, kan sekarang zaman sudah berubah, kalau zaman dahulu para lelaki mengangkat pakaiannya setengah betis, maka wanitanya harus menyelisihi dengan menjulurkannya hingga menutup telapak kaki, tapi kini lain, sekarang banyak laki-laki yang menurunkan pakaiannya hingga bawah mata kaki, maka wanitanya harus menyelisihi mereka yaitu dengan mengangkatnya hingga setengah betis atau kalau perlu lebih ke atas lagi, sehingga nampak seluruh betisnya.”
“Tetapi…apakah itu tidak menjadi fitnah bagi kaum laki-laki?” gumamnya. “Fitnah? Ah itu kan zaman dahulu, di masa itu kaum laki-laki tidak suka kalau wanita menampakkan auratnya, sehingga wanita-wanita mereka lebih banyak di rumah dan pakaian mereka sangat tertutup. Tapi sekarang sedah berbeda, kini kaum lelaki kalau melihat bagian tubuh wanita yang terbuka malah senang dan mengatakan ooh atau wow, bukankah ini berarti sudah tidak ada lagi fitnah, karena sama-sama suka? Lihat saja model pakaian di sana-sini, dari yang di emperan hingga yang bermerek kenamaan, seperti Kristian Dior, semuanya menawarkan model yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikuti model itu akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman.”
Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis biasa dikenakan, apalagi banyak para wanita yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempermasalahkan itu. Kini tibalah saatnya setan melancarkan tahap terakhir dari siasatnya untuk melucuti hijab wanita.

1.     Serba Mini
Setelah pakaian yang menampakkan betis menjadi pakaian sehari-hari dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan setan yang lain. “Pakaian membutuhkan variasi, jangan itu-itu saja, sekarang ini modelnya rok mini, dan agar serasi rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-benar indah.”
Maka, akhirnya rok mini yang menampakkan bagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bagian dada sekaligus bagina punggungnya dan berbagai model lain yang serba mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian pesta, berlibur, pakaian kerja, pekaian resmi, pakaian melam, sore, musim panas, musim dingin dan lain-lain, tak ketinggalan celana pendek separuh paha pun dimiliki, model dan warna rambut juga ikut bervariasi, semuanya telah dicoba. Begitulah sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh setan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia.
Hingga suatu ketika, muncul ide untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya dua bagian paling rawan saja yang tersisa untuk ditutupi, kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan “bikini). Karena semuanya begitu, maka harus ikut begitu, dan na’udzubillah bisikan setan telah berhasil, tujuannya tercapai, “Menelanjangi kaum Wanita”.


By : Muhammad Fauzy Nuddin, CSS Mora IAIN Surabaya & Pengurus UPBA (Unit Pengembangan Bahasa Asing)


Mengindonesiakan Dunia dengan “Sumpah Pemuda”


Kemarin, tepatnya 28 Oktober 2011 bangsa Indonesia memperingati hari Sumpah Pemuda. dengan mengingat sumpah pemuda ini, diharapkan bangsa Indonesia benar-benar memahami dan melaksanakan isi dari sumpah pemuda tersebut.
ISI SUMPAH PEMUDA :
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Pernyataan di atas adalah kutipan isi dari sumpah pemuda yang dibacakan pada kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dengan semangat tersebut, bangsa kita dapat bersatu dengan semangat kebersamaan sehingga mampu mengusir penjajah dengan jiwa patriotisme.
Namun kenyataannya, generasi muda sekarang cendrung cuek dengan isi sumpah pemuda tersebut. seperti tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik sebagai bahasa resmi.
Yang lebih memprihatinkan adalah ketika para pemuda menggunakan bahasa binatang dan jorok dalam pergaulan mereka. bukan hanya pemuda, tapi anak-anakpun sudah mulai meniru apa yang mereka dengar dari orang sekeliling mereka.
sungguh ini sangat ironis dan memalukan. kalau ini tidak segera diperbaiki, saya khawatir, bahasa Indonesia lama kelamaan akan berubah dan tercoreng di mata dunia.
Salah satu cara untuk memperbaiki ini semua adalah dengan  "mengindonesiakan" dunia adalah lewat lagu. Mungkin diplomasi ini yang belum terealisasikan secara sempurna, baik oleh musisi ataupun diplomat. Maksud saya, meski sudah banyak lagu bagus yang diciptakan seniman kita, namun sangat sedikit yang mendunia. Sebaliknya kita sangat welcome dengan lagu berbahasa asing. Bukan hanya Inggris dan irlandia tapi juga lagu China, Jepang dan India, bahkan akhir-akhir ini dihebohkan dengan lagu korea. Sudah selayaknya seniman kita beserta produsernya membidik segmen ini.
Kalau untuk Malaysia dan Singapore tak usah khawatir, kita menyaksikan di Bukit Bintang banyak band lokal my menyanyikan nyaris seluruh lagu pop kreasi anak muda kita seperi Ungu Peterpan, D'Masive, Dewa dsb. Begitu pula di sg. Mungkin usaha kebudayaan bisa dirintis lagi, tapi untuk negara dengan berpenduduk besar seperti USA, Jepang dan beberepa negara Eropa yang ada ikatan sejarah dengan kita seperti Belanda, Inggris, dan Portugal.
Tidak usah malu meniru diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Marcos dan seniman Phillipina yang dengan cerdik bukan saja mampu menarik ADB untuk berkantor di Manila, tetapi juga bisa mendatangkan penyanyi besar seperti Nat King Cole yang "digiring" menyanyikan salah satu love song terbaik dunia "Dahil Saiyo - Because of You" dalam bahasa Tagalog.
Usaha yang telah dilakukan oleh beberapa seniman dan produser untuk penyanyi top Julio Iglesias yang berduet dengan Glen Fredly dan Andre Hehanusa menyanyikan lagu cinta versi bahasa Indonesia patut diacungi jempol sebagai upaya taktis "mengindonesiakan" dunia. Tapi tentu saja frekuensi yang "angat-angat tahi ayam" ini terasa masih sangat kurang dan perlu ditingkatkan.
Mungkin setiap kali lawatan tim kesenian Indonesia, perlu disiapkan sesi khusus "mengindonesiakan" dunia dengan mencari lagu-lagu terbaik kita –tapi lagu yang mudah dan tidak “njelimet”- dan mengajak audiens menyanyikannya. Bukankah merancang visual tampilan untuk berkaraoke (menampilkan lirik) di monitor sudah sangat maju. Andai setiap kali misi kesenian nasional yang mengusung musik daerah juga bisa menyelipkan acara "mengindonesiakan dunia” ini, tentulah bahasa Indonesia akan cepat “mewabah”.
Mungkin ini yang kurang, dan itu menjadi tugas kita semua. Semoga kita mau dan percaya diri melakukannya. Mudah saja, jika anda bisa menyanyi, maka jika di setiap acara anda ikut menyanyikan lagu berbahasa Indonesia, anda sudah mencicil tugas mulia itu. Atau jika suatu saat, anda merasa musik yang disajikan dalam suatu acara didominasi musik barat, anda bisa saja “request” lagu-lagu berbahasa Indonesia. Tapi hati-hati tentu tidak mudah, terlebih jika anda juga keceplosan berkata “bisa request mbak?”, karena artinya anda masih bingung menerjemahkan kata itu.
Itulah yang sering terjadi di Indonesia seperti saya ungkapkan dalam ilustrasi di atas. Bahasa Indonesia adalah bahasa ke dua, atau bahkan tidak diperlukan sama sekali. Parahnya, ini tidak hanya terjadi di dunia musik, tapi juga Birokrasi pemerintah, bahkan Kepala Negara terlihat lebih suka mendepankan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Tengoklah bagaimana Presiden merumuskan semboyan kabinetnya. Dalam bahasa Inggris! Bahasa Indonesia ditampilkan sebagai terjemahan belaka. Kalau Presiden lebih suka mendepankan bahasa Inggris, jangan heran kalau bangsa ini lebih suka memakai produk-produk dari luar, ketimbang produk bangsa sendiri. Karena kepada mereka setiap hari diajarkan bahwa yang berasal dari luar itu lebih baik. Itulah yang sedang dipamerkan para pemimpin, khususnya sang Presiden. Sebagai penutup, saya ajukan pertanyaan untuk Anda renungkan. “Anda mungkin malu kalau kemampuan berbahasa Inggris Anda jelek. Tapi pernahkah Anda merasa malu kalau kemampuan berbahasa Indonesia Anda jelek?”
Lalu pertanyaannya adalah kekuatan SUMPAH Pemuda Indonesia masih amat kental atau malah sebaliknya sudah amat lapuh…….

By : Muhammad Fauzy Nuddin, CSS MoRA & Pengurus PK PT IPNU IAIN Surabaya


Thursday, November 10, 2011

Memaknai Jihad Tidak Harus Pada Bentuk Kekerasan


Suatu ketika Nabi Muhammad S.A.W pernah berpesan kepada para sahabat setiba dari Perang Tabuk,”Asyaddul jihad jihadul hawa, wa maa akromannasa illa at-tuqo” (jihad yang paling berat adalah jihad/perang melawan hawa nafsu (jihad akbar), yaitu Jihad yang relevan ruang dan waktu).Akan tetapi beberapa tahun terakhir gema jihad ramai menyeruak, termasuk di tanah air. Entah apa unsur yang mendorongnya, teriakan jihad selain ramai juga mendapatkan respons positif dari sebagian kaum muslimin. Kita masih ingat peristiwa Ambon dan Maluku, misalnya, beberapa tahun lalu. Sebuah peristiwa memilukan.
Abu Al Faris dalam magnum opus-nya, Al Sirah An Nabawiyyah: Dirasah Tahliliyyah, menguraikan bahwa bagi orang yang mengikuti perkembangan jihad nabi sejak beliau di Makkah sampai ketika nabi dan pengikutnya pindah ke Madinah, maka akan menemukan perbedaan konsep jihad yang sangat tajam. Saat masih berada di Makkah jihad nabi adalah jihad lisan. Di Makkah nabi sama sekali tidak pernah melakukan peperangan, melainkan hanya beradu argumen (hujjah) yang semakin memperkuat sebagai seorang utusan Langit. Jihad nabi yang demikian merupakan pengejewantahan riil dari jihad akbar.
Adapun ketika beliau sudah berada di Makkah konsep jihad berubah menjadi angkat senjata ke medan perang.nah sekarang pertanyaannya, “Apakah Islam Makkah berbeda dengan Islam Madinah?”
Saat itu, kaum muslimin baru berupa komunitas kecil di Madinah. Sebuah komunitas yang belum mempunyai arti apa-apa dibandingkan kekuatan status quo kaum Quraisy. Komunitas muslim dalam ancaman yang sangat berbahaya dari suku Quraisy yang ingin mempertahankan status quo. Apalagi suku itu ditopang oleh kekuatan Yahudi yang mengingkari janji dengan kaum muslim. Quraiys semakin solid dengan dukungan musyrik Arab dari luar Makkah, yang tidak mau menerima kehadiran Islam tentunya.

Pada saat itu pula, peperangan antar suku adalah jalan keluar menyelesaikan permasalahan; peperangan menjadi norma keseharian bangsa Arab. Maka dari itu, untuk menjaga eksistensinya umat Islam pun harus berperang melawan tangan tiran. Ancaman yang berat itu membuat kaum muslim hanya punya dua pilihan: langgeng atau hancur.
Jika umat Islam pasrah pada kenyataan zaman yang tidak berteman, maka kemungkinan saat ini tidak ada lagi orang yang beragama Islam. Hal itu dirasakan oleh nabi. Karena didorong kekhawatiran punahnya agama yang baru seumur jagung, nabi meminta pada Tuhan agar memberikan kemenangan ketika beliau dan sahabatnya hendak turun perang pertama kali. Waktu itu, nabi meminta perlindungan (dan kemenangan) karena bila kaum muslim kalah pada perang pertama dalam daftar sejarah Islam itu, ”Tidak akan ada lagi yang akan menyembah-Mu,” nabi menutup doanya.
Akhirnya, setelah sekian lama sabar menahan siksaan dan penindasan kaum Quraiys, umat Islam berperang sekali lagi untuk membela diri. Perintah perang ini terekam dalam firman Tuhan berikut, ”Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya” (Q.S.: Al Hajj: 39).
Ayat lain yang memerintahkan kaum muslim membela diri diabadikan dalam surat Al Baqarah: 191, ”Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah). Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.”
Dari sini bisa diambil benang merah bahwa jihad (baca: berperang) kaum muslimin pada masa itu tidak lain untuk membela diri dan agama yang akan dihancurkan oleh musuh-musuh Tuhan. Saat itu, komunitas kecil itu bagai bola di ujung jarum. Hanya jihad yang bisa menyelamatkan mereka dari tikaman tangan-tangan jahat yang siap membabat.
Kontekstualisasi Jihad: Mewujudkan Ruh Islam yang Rahmatan Lil Alamiin
Apakah jihad harus selalu berperang? Apakah jihad harus menumpahkan darah? Apakah jihad harus selalu identik dengan pengorbanan nyawa?
seperti terekam dalam pesan nabi setiba dari Perang Tabuk, jihad paling berat adalah perang melawan hawa nafsu. ”Kita telah kembali dari jihad skala kecil (jihad ashgar) ke yang lebih besar (jihad akbar),” sabda nabi kepada para jundullah, tentara Tuhan, yang baru pulang dari Perang Tabuk. Jadi, jihad tidak melulu angkat senjata. Bahkan jihad angkat senjata lebih ringan dibandingkan dengan jihad memerangi hawa nafsu sendiri.
Berjihad dalam arti berperang juga harus untuk tujuan-tujuan yang ditoleransi (diwajibkan) oleh Islam. Jihad bukan asal perang atau meledakkan bom, apalagi sampai mengorbankan nyawa tidak berdosa. Diantara tujuan jihad yang disyariatkan agama, antara lain, menurut Abu Ayyub, dalam Sirah Al nabawiyyah¬-nya adalah Untuk membela orang-orang yang lemah, wanita, anak-anak, orang yang sudah lanjut usia, membela diri, harta, dan tanah air.
Dalam pada itu, bisa kita lihat pada kaum minoritas muslimin Makkah; mereka diusir dari tanah air, harta dirampas, juga menerima penyiksaan dari pemegang status quo. Dalam konteks Indonesia bisa kita temukan saat pengusiran penjajah Belanda dan Jepang. Akan tetapi, kasus Indonesia dewasa ini jihad dalam arti perang sama sekali tidak relevan. Jihad yang tepat untuk konteks Indonesia dewasa ini adalah jihad akbar, bukan jihad asghar (angkat senjata).
Selain syarat-syarat di atas, pakar yuridis hukum Islam (fuqoha) sudah merumuskan secara ketat syarat jihad; kapan wajib, kapan sunah, semua sudah dipahat dengan indah oleh mereka.
Mengejewantahkan jihad ke dalam bentuk yang elegan sesuai tuntutan ruang dan waktu Indonesia temporer menjadi langkah bijak. Dengan pengejewantahan yang elegan itu, kita bisa mewujudkan ruh Islam yang rahmatan lil alamamin.
By : Muhammad Fauzy Nuddin, CSS MoRA IAIN Surabaya

NB : Coba lihat di koran DUMAS (Duta Masyarakat) Edisi Jum'at 28 Oktober 2011