Teknik
Dasar Penulisan[1]
Oleh : Muhammad Fauzinuddin[2]
Apa Itu Jurnalistik?
Menurut Kris
Budiman, jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara singkat
sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita
kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan
dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat. Sebelumnya,
jurnalistik dalam pengertian sempit disebut juga dengan publikasi secara cetak.
Dewasa ini pengertian tersebut tidak hanya sebatas melalui media cetak seperti
surat kabar, majalah, dsb., namun meluas menjadi media elektronik seperti radio
atau televisi. Berdasarkan media yang digunakan meliputi jurnalistik cetak
(print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga
telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism).
Ketika
membahas mengenai jurnalistik, pikiran kita tentu akan langsung tertuju pada
kata "berita" atau "news". Lalu apa itu berita? Berita
(news) berdasarkan batasan dari Kris Budiman adalah laporan mengenai suatu
peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual), menarik perhatian, dinilai
penting, atau luar biasa. "News" sendiri mengandung pengertian yang
penting, yaitu dari kata "new" yang artinya adalah "baru".
Jadi, berita harus mempunyai nilai kebaruan atau selalu mengedepankan aktualitas.
Dari kata "news" sendiri, kita bisa menjabarkannya dengan
"north", "east", "west", dan "south".
Bahwa si pencari berita dalam mendapatkan informasi harus dari keempat sumber
arah mata angin tersebut.
Selanjutnya
berdasarkan jenisnya, Kris Budiman membedakannya menjadi "straight
news" yang berisi laporan peristiwa politik, ekonomi, masalah sosial, dan
kriminalitas, sering disebut sebagai berita keras (hard news). Sementara
"straight news" tentang hal-hal semisal olahraga, kesenian, hiburan,
hobi, elektronika, dsb., dikategorikan sebagai berita ringan atau lunak (soft
news). Di samping itu, dikenal juga jenis berita yang dinamakan
"feature" atau berita kisah. Jenis ini lebih bersifat naratif,
berkisah mengenai aspek-aspek insani (human interest). Sebuah
"feature" tidak terlalu terikat pada nilai-nilai berita dan
faktualitas. Ada lagi yang dinamakan berita investigatif (investigative news),
berupa hasil penyelidikan seorang atau satu tim wartawan secara lengkap dan
mendalam dalam pelaporannya.
Nilai Berita
Sebuah berita jika disajikan
haruslah memuat nilai berita di dalamnya. Nilai berita itu mencakup beberapa
hal, seperti berikut :
1. Objektif:
berdasarkan fakta, tidak memihak.
2. Aktual:
terbaru, belum "basi".
3. Luar biasa:
besar, aneh, janggal, tidak umum.
4. Penting:
pengaruh atau dampaknya bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.
5. Jarak:
familiaritas, kedekatan (geografis, kultural, psikologis).
Lima nilai berita di atas menurut Kris Budiman sudah
dianggap cukup dalam menyusun berita. Namun, Masri Sareb Putra dalam bukunya
"Teknik Menulis Berita dan Feature", malah memberikan dua belas nilai
berita dalam menulis berita (2006: 33). Dua belas hal tersebut di antaranya
adalah:
1.
sesuatu yang unik,
2.
sesuatu yang luar biasa,
3.
sesuatu yang langka,
4.
sesuatu yang
dialami/dilakukan/menimpa orang (tokoh) penting,
5.
menyangkut keinginan publik,
6.
yang tersembunyi,
7.
sesuatu yang sulit untuk dimasuki,
8.
sesuatu yang belum banyak/umum
diketahui,
9.
pemikiran dari tokoh penting,
10.
komentar/ucapan dari tokoh penting,
11.
kelakuan/kehidupan tokoh penting,
dan
12.
hal lain yang luar biasa.
Dalam kenyataannya, tidak semua
nilai itu akan kita pakai dalam sebuah penulisan berita. Hal terpenting adalah
adanya aktualitas dan pengedepanan objektivitas yang terlihat dalam isi tersebut.
Anatomi
Berita dan Unsur-Unsur
Seperti tubuh kita, berita juga
mempunyai bagian-bagian, di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Judul atau
kepala berita (headline).
2. Baris
tanggal (dateline).
3. Teras berita
(lead atau intro).
4. Tubuh berita
(body).
Bagian-bagian di atas tersusun
secara terpadu dalam sebuah berita. Susunan yang paling sering didengar ialah
susunan piramida terbalik. Metode ini lebih menonjolkan inti berita saja. Atau
dengan kata lain, lebih menekankan hal-hal yang umum dahulu baru ke hal yang
khusus. Tujuannya adalah untuk memudahkan atau mempercepat pembaca dalam
mengetahui apa yang diberitakan; juga untuk memudahkan para redaktur memotong
bagian tidak/kurang penting yang terletak di bagian paling bawah dari tubuh
berita (Budiman 2005) . Dengan selalu mengedepankan unsur-unsur yang berupa
fakta di tiap bagiannya, terutama pada tubuh berita. Dengan senantiasa
meminimalkan aspek nonfaktual yang pada kecenderuangan akan menjadi sebuah
opini.
Untuk itu, sebuah berita harus
memuat "fakta" yang di dalamnya terkandung unsur-unsur 5W + 1H. Hal
ini senada dengan apa yang dimaksudkan oleh Lasswell, salah seorang pakar komunikasi
(Masri Sareb 2006: 38), yakni :
1. Who - siapa
yang terlibat di dalamnya?
2. What - apa
yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
3. Where - di
mana terjadinya peristiwa itu?
4. Why -
mengapa peristiwa itu terjadi?
5. When - kapan
terjadinya?
6. How -
bagaimana terjadinya?
Tidak hanya sebatas berita, bentuk
jurnalistik lain, khususnya dalam media cetak, adalah berupa opini. Bentuk
opini ini dapat berupa tajuk rencana (editorial), artikel opini atau kolom
(column), pojok dan surat pembaca.
Sumber Berita
Hal penting lain yang dibutuhkan
dalam sebuah proses jurnalistik adalah pada sumber berita. Ada beberapa
petunjuk yang dapat membantu pengumpulan informasi, sebagaimana diungkapkan
oleh Eugene J. Webb dan Jerry R. Salancik (Luwi Iswara 2005: 67) berikut ini :
1. Observasi
langsung dan tidak langsung dari situasi berita.
2. Proses
wawancara.
3. Pencarian
atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik.
4. Partisipasi
dalam peristiwa.
Kiranya tulisan singkat tentang
dasar-dasar jurnalistik di atas akan lebih membantu kita saat mengerjakan
proses kreatif kita dalam penulisan jurnalistik.
Sumber bacaan:
Budiman,
Kris. 2005. "Dasar-Dasar Jurnalistik: Makalah yang disampaikan dalam
Pelatihan Jurnalistik.
Ishwara,
Luwi. 2005. "Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar". Jakarta: Penerbit
Buku Kompas.
Putra, R.
Masri Sareb. 2006. "Teknik Menulis Berita dan Feature". Jakarta:
Indeks.
[1]
Ditujukan untuk mengisi diklat tentang kepenulisan CSS MoRA UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang, sabtu 03 Nopember 2012.
[2] Penulis
Buku “Kamus Kontemporer Mahasantri 3 Bahasa”, Buku Antologi “Bilik-Bilik Islam, Renungan
dari lorong Rusunawa Pesantren’’ dan Novel Memoar Inspiratif “Impiah Hebat,
cerita sukses meraih beasiswa” serta Pengelolah Pesantren Journalism
Community (PJC) di Pesantren Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya.
