Perkelahian,
atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan
bukan “hanya” antar pelajar sekolah menengah pertama atau lanjutan, tapi juga
sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Belum lama tawuran yang terjadi pada
sekolah menengah atas di jakarta yang menewaskan 2 siswa mereda, baru-baru ini
muncul kembali tawuran yang menimpa pelajar, tepatnya mahasiswa di salah satu
universitas di makasar. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang
wajar pada remaja. Masalah tawuran pelajar memang cukup kompleks. Alhasil,
semua pemangku kepentingan (stakeholder) dan pihak terkait harus berperan.
Selain pemerintah, guru dan orang tua juga harus terlibat. Dan yang sangat
disesalkan adalah "Pernah saya
mendengar dari salah seorang wali murid yang mengatakan tawuran itu biasa, namanya juga anak
laki-laki, nah persepsi ini kan sudah salah." Selain itu, pihak yang harus
juga berperan dari yang sudah disebut diatas adalah keterlibatan alumni juga
penting dalam mengatasi masalah ini karena selama ini, tidak sedikit alumni sekolah yang ikut
terlibat dalam tawuran sekolah. "Jadi ada pihak yang ikut
ngompor-ngomporin, contohnya alumni, ini sering terjadi," ujarnya.
Jelas bahwa
perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori
dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya)
yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila
mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus,
halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan
kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin
adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan
siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para
pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk
memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar
tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka
panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia, apalagi
akhir-akhir ini tawuran pelajar sampai menuai korban, kan tidak pantas jika ada
penyebutan pelajar pembunuh. Mungkin sudah sewajarnya pemerintah sudah
menyiapkan jurus ampuh untuk meng-KUHP-kan tawuran agar setidaknya bisa
mereduksi tawuran-tawuran yang terjadi.
Sering
dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari
keluarga dengan ekonomi yang lemah ataupun sekolah yang dirasa kurang memberikan
pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan
kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah. Padahal penyebab perkelahian
pelajar tidaklah sesederhana dan sesempit itu. Terutama di kota besar,
masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis,
juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya),
serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.
Secara
psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai
salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan
remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi
yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi
karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu
biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat.
Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu
berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma
dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi.
Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh
kelompoknya.
Dalam
pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan tafa’ul (baca: interaksi)
antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau
tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal seperti faktor keluarga, dimana Rumah
tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas
berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan
adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan
kekerasan pula. Dan juga yang menjadi salah satu faktor pendukung pelajar
tawuran adalah faktor sekolah, dimana lingkungan sekolah yang tidak merangsang
siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang
tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan
menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama
teman-temannya, nah ini membuka cela bagi pelajar untuk melakukan
kegiatan-kegian negatif diantaranya seperti tawuran. Jadi sangat jelas bahwa
disini guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih
berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh feodal
yang otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam
bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya. Dan faktor eksternal terakhir yang
memiliki pengaruh besar adanya tawuran pelajar adalah faktor lingkungan, baik
lingkungan rumah ataupun lingkungan sekolah yang sehari-hari remaja alami. Misalnya
lingkungan yang berperilaku buruk (lingkungan yang dihuni para pemabuk, pecandu
narkoba dll, ). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering
menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota yang penuh kekerasan. Semuanya
itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan
kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku
berkelahi.
By : Muhammad Fauzinuddin, Penulis adalah Pengurus SEMA Div. Intelektual Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya dan juga Penulis
Buku Kamus Kontemporer Mahasantri 3 Bahasa, Buku antologi Bilik-bilik Islam dan
Novel Impian Hebat, Cerita sukses meraih beasiswa.-.

No comments:
Post a Comment