Monday, December 17, 2012

Tradisi Tawuran Para Pencari Ilmu

Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar sekolah menengah pertama atau lanjutan, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Belum lama tawuran yang terjadi pada sekolah menengah atas di jakarta yang menewaskan 2 siswa mereda, baru-baru ini muncul kembali tawuran yang menimpa pelajar, tepatnya mahasiswa di salah satu universitas di makasar. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja. Masalah tawuran pelajar memang cukup kompleks. Alhasil, semua pemangku kepentingan (stakeholder) dan pihak terkait harus berperan. Selain pemerintah, guru dan orang tua juga harus terlibat. Dan yang sangat disesalkan adalah  "Pernah saya mendengar dari salah seorang wali murid yang mengatakan  tawuran itu biasa, namanya juga anak laki-laki, nah persepsi ini kan sudah salah." Selain itu, pihak yang harus juga berperan dari yang sudah disebut diatas adalah keterlibatan alumni juga penting dalam mengatasi masalah ini karena selama ini,  tidak sedikit alumni sekolah yang ikut terlibat dalam tawuran sekolah. "Jadi ada pihak yang ikut ngompor-ngomporin, contohnya alumni, ini sering terjadi," ujarnya.
Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia, apalagi akhir-akhir ini tawuran pelajar sampai menuai korban, kan tidak pantas jika ada penyebutan pelajar pembunuh. Mungkin sudah sewajarnya pemerintah sudah menyiapkan jurus ampuh untuk meng-KUHP-kan tawuran agar setidaknya bisa mereduksi tawuran-tawuran yang terjadi.
Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah ataupun sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah. Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana dan sesempit itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.
Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan tafa’ul (baca: interaksi) antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal seperti faktor keluarga, dimana Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Dan juga yang menjadi salah satu faktor pendukung pelajar tawuran adalah faktor sekolah, dimana lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya, nah ini membuka cela bagi pelajar untuk melakukan kegiatan-kegian negatif diantaranya seperti tawuran. Jadi sangat jelas bahwa disini guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh feodal yang otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya. Dan faktor eksternal terakhir yang memiliki pengaruh besar adanya tawuran pelajar adalah faktor lingkungan, baik lingkungan rumah ataupun lingkungan sekolah yang sehari-hari remaja alami. Misalnya lingkungan yang berperilaku buruk (lingkungan yang dihuni para pemabuk, pecandu narkoba dll, ). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.

By : Muhammad Fauzinuddin, Penulis adalah Pengurus SEMA Div. Intelektual Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya dan juga Penulis Buku Kamus Kontemporer Mahasantri 3 Bahasa, Buku antologi Bilik-bilik Islam dan Novel Impian Hebat, Cerita sukses meraih beasiswa.-.

No comments:

Post a Comment