Aliansi
Mahasiswa Syar’iah Menggugat (AMSM), adalah sebuah nomenklatur yang baru saya
denger di kampus tercinta IAIN Sunan Ampel surabaya, khususnya di fakultas
syariah. Sebuah komunitas/perkumpulan mahasiswa yang tidak setuju dengan
pembongkaran gedung khususnya salah satu gedung kuno di Syariah yang berada
terdepan sendiri dari gedung-gedung lain sehingga eksistensinya menjadi wajah
dari perawakan kampus IAIN Supel.
AMSM
memulai aksinya sejak tadi pagi (Senin, 12 Nopember 2012) dengan memprovokasi
semua mahasiswa syariah (utamanya MABA) untuk melakukan demo dengan mengarak
para pendemo keliling kampus, AMSM juga menyebar selembaran buletin berwarna kuning
di berbagai tempat strategis, termasuk di gedung RUSUNAWA Pesantren Mahasiswa
(PesMa) yang letaknya di depan gedung Pasca Sarjana.
Saya,
dan teman-teman kelas Ahwal al-Syakhshiyyah (AS E) yang memang dari awal tidak
ikut serta karena lagi Ujian Tengah Semester (Red : UTS) sempat terganggu
dengan suara-suara berisik dengan bernyanyi lagu pergerakan, kekhidmad-an
dalam mengerjakan soal-soal UTS pun mulai pecah dan semakin terusik ketika
pimpinan demo mendatangi kelas kami untuk mengajak melakukan hal yang menurut
mereka benar dan merasa sudah sesuai dengan status mahasiswa sebagai agen of
change dan agen of control sosial, tetapi kita kembali fokus mengerjakan soal
demi soal setelah dosen pengampu mata kuliah yang sedang diujikan (Tafsir ayat
hukum keluarga II: Red) berbicara lirih dengan pimpinan demo, kita tidak tahu
apa yang dibicarakan, tetapi ending-nya mereka pergi meninggalkan kelas
kami.
Sebenarnya
saya pribadi bingung karena mereka menggembor-gemborkan status agen perubahan
dan agen kontrol sosial, lalu apa interelasi antara agen perubahan dengan
pembongkaran gedung???, padahal sebenarnya tidak hanya gedung fakultas syariah
yang akan dibongkar tetapi gedung-gedung fakultas lain juga akan bahkan sedang
dibongkar untuk standarisasi dan proyek konversi dari IAIN ke UIN Sunan Ampel
Surabaya.
Memang,
mahasiswa harus kritis menyikapi problema sosial yang ada, utamanya di kampus
tercinta ini, tapi hemat saya seyogya-nya sifat kritis mereka dilandasi dengan
kematangan idealisme yang tinggi, tidak sekedar hanya menyematkan kata kritis
yang tidak terarah, berspekulasi dan berasumsi yang akan menambah merugikan
mahasiswa yang lain, seperti mahasiswa yang seharusnya sedang kuliah atau lagi
UTS bisa terhambat karena adanya demo pragmatis ini.
Pembongkaran
yang akan atau sedang dilakukan oleh pihak rektorat terkait pengkondisian
gedung-gedung baru dalam konversi ke UIN Sunan Ampel Surabaya sebenarnya sudah
ditinjau dan dipikirkan matang-matang oleh pihak rektorat selaku pemilik
kebijkan, itu terbukti dengan adanya pembongkaran bertahap karena memang
diharapkan dalam proyek pembangunan gedung ini tidak sampai menghambat atau
meliburkan kegiatan belajar mahasiswa.
Mungkin sangat pragmatis jika menganggap dengan
adanya pembongkaran dan proyek pembangunan kembali gedung yang lebih megah
kedepannya membuat kegiatan belajar-mengajar terhentikan, karena sekali lagi
gedung yang akan dibongkar itu bersifat bertahab yang membuat mahasiswa bisa
mengikuti perkuliahan digedung-gedung lain yang baru dibuat, misalnya kalau di
syariah ada gedung B dan C yang masih berdiri kokok dan masih tergolong
bangunan baru, kalau di fakultas tarbiyah ada gedung B yang berdiri begitu
megahnya, tak kalah juga fakultas adab yang berdiri bangunan cantik yang sudah
mengucurkan dana puluhan miliar.
Jadi tidak ada alasan bagi mahasiswa
untuk menolak pembongkaran gedung, utamanya yang ada digedung A Fakultas
Syariah yang memang sudah usang dan veteran bahkan kelihatan angker dengan
usianya yang mungkin jika dinalogikan manusia sudah tiada (mati faktor usia :
red) atau sudah dibantu dengan tongkat penunjang. Sangat naif dan terburu-buru
jika mereka berfikir dengan adanya pembongkaran bertahap ini dirasa merugikan
mahasiswa fakultas syariah karena hak akademisnya telah diperkosa oleh
penguasa, bahkan mereka sampai berspekulasi bahwa nantinya para mahasiswa
seakan dianggap seperti halnya kambing yang siap ditempatkan di bawah pohon
ketika kandangnya mau di bongkar.
Anomali seperti ini sebenarnya tidak
perlu dikhawatirkan jika esensinya karena alasan akademika, belajar dimanapun
jika kita Ikhlas, mencoba menyenangi materi yang disampaikan begitu juga suhbatul
ustadz, insya Allah kita akan mendapatkan Ilmu yang berkah dan tidak kalah
dengan belajar dikelas-kelas.
By : Muhammad Fauzinuddin, Anggota Legislatif Musyawarah Senat Mahasiswa (MUSEMA) UIN Sunan Ampel Surabaya & Simpatisan CSS MoRA kemenag RI.-
No comments:
Post a Comment