Monday, December 17, 2012

Menyikapi repugnansi AMSM IAIN (UIN) Sunan Ampel Surabaya


Aliansi Mahasiswa Syar’iah Menggugat (AMSM), adalah sebuah nomenklatur yang baru saya denger di kampus tercinta IAIN Sunan Ampel surabaya, khususnya di fakultas syariah. Sebuah komunitas/perkumpulan mahasiswa yang tidak setuju dengan pembongkaran gedung khususnya salah satu gedung kuno di Syariah yang berada terdepan sendiri dari gedung-gedung lain sehingga eksistensinya menjadi wajah dari perawakan kampus IAIN Supel.
AMSM memulai aksinya sejak tadi pagi (Senin, 12 Nopember 2012) dengan memprovokasi semua mahasiswa syariah (utamanya MABA) untuk melakukan demo dengan mengarak para pendemo keliling kampus, AMSM juga menyebar selembaran buletin berwarna kuning di berbagai tempat strategis, termasuk di gedung RUSUNAWA Pesantren Mahasiswa (PesMa) yang letaknya di depan gedung Pasca Sarjana.
Saya, dan teman-teman kelas Ahwal al-Syakhshiyyah (AS E) yang memang dari awal tidak ikut serta karena lagi Ujian Tengah Semester (Red : UTS) sempat terganggu dengan suara-suara berisik dengan bernyanyi lagu pergerakan, kekhidmad-an dalam mengerjakan soal-soal UTS pun mulai pecah dan semakin terusik ketika pimpinan demo mendatangi kelas kami untuk mengajak melakukan hal yang menurut mereka benar dan merasa sudah sesuai dengan status mahasiswa sebagai agen of change dan agen of control sosial, tetapi kita kembali fokus mengerjakan soal demi soal setelah dosen pengampu mata kuliah yang sedang diujikan (Tafsir ayat hukum keluarga II: Red) berbicara lirih dengan pimpinan demo, kita tidak tahu apa yang dibicarakan, tetapi ending-nya mereka pergi meninggalkan kelas kami.
Sebenarnya saya pribadi bingung karena mereka menggembor-gemborkan status agen perubahan dan agen kontrol sosial, lalu apa interelasi antara agen perubahan dengan pembongkaran gedung???, padahal sebenarnya tidak hanya gedung fakultas syariah yang akan dibongkar tetapi gedung-gedung fakultas lain juga akan bahkan sedang dibongkar untuk standarisasi dan proyek konversi dari IAIN ke UIN Sunan Ampel Surabaya.
Memang, mahasiswa harus kritis menyikapi problema sosial yang ada, utamanya di kampus tercinta ini, tapi hemat saya seyogya-nya sifat kritis mereka dilandasi dengan kematangan idealisme yang tinggi, tidak sekedar hanya menyematkan kata kritis yang tidak terarah, berspekulasi dan berasumsi yang akan menambah merugikan mahasiswa yang lain, seperti mahasiswa yang seharusnya sedang kuliah atau lagi UTS bisa terhambat karena adanya demo pragmatis ini.
Pembongkaran yang akan atau sedang dilakukan oleh pihak rektorat terkait pengkondisian gedung-gedung baru dalam konversi ke UIN Sunan Ampel Surabaya sebenarnya sudah ditinjau dan dipikirkan matang-matang oleh pihak rektorat selaku pemilik kebijkan, itu terbukti dengan adanya pembongkaran bertahap karena memang diharapkan dalam proyek pembangunan gedung ini tidak sampai menghambat atau meliburkan kegiatan belajar mahasiswa.
             Mungkin sangat pragmatis jika menganggap dengan adanya pembongkaran dan proyek pembangunan kembali gedung yang lebih megah kedepannya membuat kegiatan belajar-mengajar terhentikan, karena sekali lagi gedung yang akan dibongkar itu bersifat bertahab yang membuat mahasiswa bisa mengikuti perkuliahan digedung-gedung lain yang baru dibuat, misalnya kalau di syariah ada gedung B dan C yang masih berdiri kokok dan masih tergolong bangunan baru, kalau di fakultas tarbiyah ada gedung B yang berdiri begitu megahnya, tak kalah juga fakultas adab yang berdiri bangunan cantik yang sudah mengucurkan dana puluhan miliar.
            Jadi tidak ada alasan bagi mahasiswa untuk menolak pembongkaran gedung, utamanya yang ada digedung A Fakultas Syariah yang memang sudah usang dan veteran bahkan kelihatan angker dengan usianya yang mungkin jika dinalogikan manusia sudah tiada (mati faktor usia : red) atau sudah dibantu dengan tongkat penunjang. Sangat naif dan terburu-buru jika mereka berfikir dengan adanya pembongkaran bertahap ini dirasa merugikan mahasiswa fakultas syariah karena hak akademisnya telah diperkosa oleh penguasa, bahkan mereka sampai berspekulasi bahwa nantinya para mahasiswa seakan dianggap seperti halnya kambing yang siap ditempatkan di bawah pohon ketika kandangnya mau di bongkar.
            Anomali seperti ini sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan jika esensinya karena alasan akademika, belajar dimanapun jika kita Ikhlas, mencoba menyenangi materi yang disampaikan begitu juga suhbatul ustadz, insya Allah kita akan mendapatkan Ilmu yang berkah dan tidak kalah dengan belajar dikelas-kelas.

By : Muhammad Fauzinuddin, Anggota Legislatif Musyawarah Senat Mahasiswa (MUSEMA) UIN Sunan Ampel Surabaya & Simpatisan CSS MoRA kemenag RI.-

No comments:

Post a Comment